Sekolah SMP, SMA dan SMK di Tulungagung yang letaknya relatif jauh dari pusat kota kesulitan mengakses internet tetapi kurikulumnya tetap menghendaki para siswanya dapat memperoleh pembelajaran praktek mengakses internet sebagai wujud peningkatan layanan sekolah untuk memenuhi standar isi kurikulum.

Last Comment

membuat soal ipa capedeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh

15.06.09 @ 11:48:58
oleh ombet


membuat soal

15.06.09 @ 11:45:55
oleh ombet


aku adalah Pengunjung dari negri Indonesia.

14.06.09 @ 10:56:53
oleh faiz


MAna Soal na.............................?????????????????????

08.06.09 @ 21:10:20
oleh Icaross


Teknologi canggih untuk pembelajaran OK, tanggap ...

29.05.09 @ 10:10:05
oleh SDIT Umar Bin Khathab


Ya ampyun... Smp n 1 kauman is ...

17.05.09 @ 18:58:24
oleh Yurike


menurut saya, kurikulum KTSP itu sama ...

07.05.09 @ 09:16:26
oleh Lemy


sayang sekali blm bisa dijangkau sekolah2, ...

19.03.09 @ 22:06:17
oleh LPP


terima kasih Pak, tulisan Bapak telah ...

15.03.09 @ 19:40:36
oleh eko sihwahju


gratis aja bangga

27.02.09 @ 18:16:30
oleh yuvies


Announce

Siapa yang Online?

Anggota: 0
Pengunjung: 1

Feb/10/2008 - 01:25:35

TRYOUT MENGHADAPI UJIAN NASIONAL 2008

Hampir semua sekolah di Tulungagung, baik SMP, SMA dan SMK mulai bulan ini Pebruari 2008 melakukan tryout bagi siswa yang akan mengikuti ujian nasional mulai tanggal 22 April 2008 (SMA), 6 Mei 2008 (SMP). Tujuannya sudah jelas agar baik sekolah maupun siswanya “siap mengikuti ujian nasional” dan siswanya “berhasil lulus semua”.

Bagi sekolah tryout digunakan sebagai latihan atau percobaan menyelenggarakan ujian nasional, bagaimana menata ruang kelas, penempatan tempat duduk siswa, meja pengawas ruang, kesekretariatan, pengumpulan dan pengurutan lembar jawab siswa serta penyegelan sampul dan sebagainya semua mengacu pedoman atau prosedur operasional stantanrd (POS) penyelenggaraan ujian nasional. Jika diketahui masih ada kekurangan segera diantisipasi agar pada pelaksanaan hari “H” ujian nasional benar-benar diselenggarakan sesuai POS.

Bagi siswa tryout digunakan sebagai latihan dan percobaan mengikuti ujian nasional yang sesungguhnya, mata pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional (UN) 2008 sesuai Peraturan Mendiknas no. 34 tahun 2007 pasal 6, tanggal 5 November 2007 adalah sebagai berikut:
a. SMP/MTs/SMPLB: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
b. SMA dan MA: - Program IPA: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, Biologi - Program IPS: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi - Program Bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Bahasa Asing lain yang diambil, Sejarah Budaya (Antropologi), dan Sastra Indonesia - Program Keagamaan: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Ilmu Tafsir, Ilmu Hadis, dan Tasawuf/Ilmu Kalam.

Soal tryout diharapkan mengacu Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SMP dan SMA untuk Ujian Nasional 2008 dengan persyaratan kelulusan sesuai Peraturan Mendiknas no. 34 tahun 2007 pasal 15, tanggal 5 November 2007 adalah:sebagai berikut:
a. Memiliki rata-rata minimal 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dan tidak ada nilai di bawah 4,25.
b. Memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00.

Permasalahannya sekarang sangat dimungkinkan sebagian SKL belum “diajarkan” di sekolah tetapi telah keluar dalam soal tryout (soal belum valid) sehingga hasil tryout belum bisa digunakan prediksi/analisa kelulusan siswa. Kekawatiran demikian ini tidak perlu terjadi apabila soal tryout benar-benar dibuat mengacu SKL yang telah diajarkan kepada siswa.

Waktu pelaksanaan tryout umumnya berakhir pada bulan Maret 2008, jumlah atau frekuensi tryout umumnya minimal 4 kali untuk SMA dan 5 kali untuk SMP dengan peta soal standar yaitu SKL 2008. Bagaimana cara memanfaatkan hasil tryout untuk memprediksi kelulusan siswa? Apakah dengan merata-rata hasil semua tryout (4 atau 5 kali tryout itu)? Ataukah hanya didasarkan hasil tryout yang terakhir saja?

Jika validitas soal hanya diukur dengan 1 ukuran standar yaitu SKL 2008 maka hasil koreksi soal tryout bisa digunakan prediksi kelulusan nanti dengan cara merata-rata hasil ke 4 atau 5 tryout itu, namun apabila validitas soal ternyata hanya pada tryout yang terakhir saja (untuk semua SKL telah diselesaikan) maka prediksi kelulusan siswa juga hanya berdasarkan hasil tryout yang terakhir pula.

Hal demikian perlu dipertimbangkan karena saat sekarang ini baru dimulai kegiatan semester 6 yang masih dalam proses penyelesaian SKL “bersamaan waktunya” dilaksanakan tryout. Lebih baik tryout baru dilakukan setelah diyakini SKL telah diselesaikan dengan baik. Semoga!

Sebagai upaya “menyelamatkan” siswa maka hasil tryout perlu disampaikan kepada orangtua siswa sedini mungkin sehingga orangtua siswa juga berkesempatan mengintensifkan bantuan dan pengawasan kepada putranya agar prestasi hasil ujian 2008 dapat dicapai siswa secara optimal.

Ujian berskala nasional masih sangat dibutuhkan, karena menyangkut pengendalian mutu lulusan secara nasional. Evaluasi belajar tahap akhir nasional (Ebtanas) sebagai ujian berskala nasional yang dinilai belum berjalan secara optimal seperti yang diharapkan tidak perlu dihapuskan tetapi perlu diperbaiki baik mengenai sistem managemennya, aspek metodologinya, maupun aspek teknologinya. Artinya eksistensinya tetap dipertahankan karena mencontoh persoalan yang terjadi di Amerika Serikat. sebelum tahun 1999, Amerika menerapkan ujian lokal, tetapi ketika dievaluasi, mutu lulusan Amerika berada di bawah rata-rata internasional. Salah satu penyebab yang ditemukan, adalah tidak adanya ujian yang bersifat nasional atau minimal negara bagian, yang pada akhirnya menimbulkan kesulitan untuk mengendalikan mutu lulusannya.

Indonesia sebenarnya juga pernah menerapkan hal yang sama. Pada tahun 1969, di masa Kabinet Pembangunan I, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Deputi Mentri Pendidikan Tinggi Mashuri menghapus ujian negara yang bersifat nasional. Sebagai gantinya dilaksanakan ujian lokal yang diselenggarakan oleh sekolah masing-masing. Dampaknya angka kelulusan menjadi 100 persen. Siswa yang nilainya satu koma juga diluluskan, sehingga tidak ada standar minimum untuk kelulusan, saat ini dicari kesepakatan baru kepada masyarakat untuk menentukan standar nilai minimum yang harus bisa dicapai oleh anak-anak didik yang berada di daerah terpencil. Langkah yang perlu ditempuh adalah dengan membuat soal yang setara dengan kemampuan para siswa didik dan memperbaiki kualitas pengajaran mereka serta melakukan pemetaan untuk mengetahui daerah-daerah yang belum mencapai standar nasional. (Ajisaka)

Admin · 4138 tampilan · 9 komentar

Permanen link untuk entry penuh

http://ajisaka.sosblog.com/Ajis-b1/TRYOUT-MENGHADAPI-UJIAN-NASIONAL-2008-b1-p33.htm

Komentar

Komentar dari: nadia [ Pengunjung ]
makaci atas solusinya yach
   30.10.08 @ 16:58:15
Komentar dari: Ain_Pontianak [ Pengunjung ] Situs
Mungkin bagi pemerintah..
UN merupakan salah satu upaya dalam rangka mencerdaskan anak bangsa dan meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Tapi...
Sering kali kasus yang terjadi hampir di seluruh Indonesia itu anak yang BERPRESTASI malah tidak lulus dan anak yang..mungkin bisa dikatakan TIDAK AKTIF di kelas lulus..bahkan mendapat nilai yang bagus.
Saya sering kali mendengar, para siswa mengatakan \\\\\\\\\\\\\\\"LULUS ATAU TIDAK ITU TERGANTUNG NASIB\\\\\\\\\\\\\\\"
Jadi..apakah ini akan semakin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia??
   29.10.08 @ 13:50:31
Komentar dari: andrie [ Pengunjung ]
SEBELUMNYA SAYA UCAPKAN TERIMA KASIH

Komentar saya, UN memang diharapkan menjadi suatu upaya pemerintah untuk memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia sekarang ini.Kalaupun ada standart kelulusan, terlebih hampir tiap tahunnya mengalami peningkatan, itu jelas bagus dan saya tanggapi dengan senang hati.Apalagi negara tercinta ini masih jauh kalah dengan negera tetangga, Malaysia misalnya.
Upaya menaikkan setandart kelulusan hingga 5,25 saya rasa bagus.Hendaknya anak, peserta ujian harus mampu memotifasi dirinya sendiri agar dirinya memiliki target kemampuan untuk menembus standart kelulusan tersebut.Kalau tiap tahun tak ada perubahan, sampai kapan kita dapat meningkatkan mutu,justru aneh,bukan??

salam dari Andrie jm, dari Wartawan SMG Biro Kediri.Tulungagung

   05.05.08 @ 14:03:26
Komentar dari: smp al azhaar [ Pengunjung ] Situs
Salam kenal. Singgah sebentar. Kami juga dari Tulungagung.
   02.05.08 @ 16:17:00
Komentar dari: munawar [ Pengunjung ] Situs
salam kenal dari aceh
   24.04.08 @ 15:14:52
Komentar dari: munawar [ Pengunjung ] Situs
mungkin cara memotifikasi siswa dalam mendidik bukan dengan cara membuat UN, tapi didiklah dia dengan cara yang tidak mengilakan dia.
dan satu lagi kami bukanlah kelinci parcobaan

ingat
   24.04.08 @ 15:13:48
Komentar dari: farid [ Pengunjung ] Situs
tolong krm soal ujian 2008
   22.04.08 @ 13:55:39
Komentar dari: enggar pramesti [ Pengunjung ]
buat pemerintah..

apa sih maksudnya naikin standar UN dan nambahinnya jadi 6 pelajaran..??

bukan gitu cara meningkatkan mutu pendidikan INDONESIA..

Sebenarnya kalian itu emang maunya kami semua gak lulus kan..??

dengan segubrak syarat kelulusan??

kami bukan percobaan!!

berapa banyak anak bangsa yang bakalan gak lulus dan mati bunuh diri cuma karena keputusan anda2 semua yang sama sekali gak ngebuat mutu pendidikan jadi semakin maju..???

   18.04.08 @ 17:24:09
Komentar dari: budi [ Pengunjung ] Situs
salam kenal dari kalimantan
   03.03.08 @ 21:09:00

Beri komentar

Status tanggapan baru: Publikasikan





URL anda akan ditampilkan.

 
Please enter the code written in the picture.


Teks komentar

Pilihan
   (Set cookie untuk nama, email dan url.)